Friday, February 02, 2007

Jakarta Banjir Lagi, Macet Dan Dapur Umum Hasilnya

Gambar 1 : Efek macet akibat banjir

Gambar 2: "Banjir" dapur umum disekitar lokasi banjir

Jakarta banjir lagi tahun ini, tidak ada penanganan banjir secara serius. Siapa yang mau disalahkan, rakyat atau pemerintah? Atau kedua-keduanya bersalah.
Tempat tinggal penulis tidaklah terkena banjir, namun terkena efek dari banjir tersebut yaitu listrik mati sejak sekitar pukul 1:30 dini hari tanggal 2 februari 2007.

Catatan
: Gambar diambil menggunakan kamera ponsel nokia 6275i. Lokasi disekitar tempat tinggal penulis. Di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sunday, October 15, 2006

Keanehan Pada Yahoo Messenger v8.0.0.716

YM yang aneh


Coba diperhatikan gambar diatas, lihat kedua window dari ym tersebut (yang satu conference, yang satu lagi private message).

Pelajaran Yang Terus Berulang Dalam Kehidupan

Dalam dunia kehidupan ini sudah pasti setiap anak manusia (bahkan setiap makhluk) akan mengalami proses pembelajaran, entah itu berupa formal atau non formal. Ketika masih dalam rahim sang ibu, proses belajar pun juga terjadi. Bagaimana cara komunikasi dengan sang calon ibu, itu juga merupakan pembelajaran.
Lalu ketika lahir ke dunia ini, sang anak pun belajar untuk mencari penghidupan dengan cara bernafas dan melepaskan suara untuk yang pertama kali di dunia ini baginya. Lalu sang ibu mengajari nya bagaimana caranya makan serta minum, yang nanti akan menjadi naluri kuat dari sang anak ketika dia lapar atau haus maka dia akan menangis dan dapatlah dia pelajaran hidup yang kedua. Lalu, berikutnya bagaimana cara dia mengenali orang yang sering dilihatnya (Mostly, sang ibu), itu pelajaran ketiga. Kelanjutannya adalah bagaimana dia belajar menyebutkan nama yang diajarkan oleh ibunya, itulah pelajaran ke empat. Kemudian setelah kurang lebih satu tahun, dia akan belajar berjalan yang dimulai dari merangkak, inilah pelajaran yang kelima baginya ketika sang anak sudah dapat berdiri dan berjalan serta berlari. Dilanjutkan dengan pelajaran keenam, yaitu bagaimana sang anak belajar dalam pendidikan formal berupa sekolah tingkat dasar (TK dan SD), tingkat menengah (SMP dan SMU) serta tingkat tinggi (D1 sampai S3). Pada pelajaran ketujuh, bagaimana memasuki tahap pendewasaan diri. Kedelapan, proses komunikasi dengan lingkar luar yang sangat luas (bukan keluarga).
Kesembilan dan Kesepuluh adalah pelajaran untuk bertahan dalam kehidupan dengan bekerja dan membina keluarga untuk mengajari anak seperti mereka sebelumnya.
Dalam kehidupan ini proses-proses ini tidak pernah berhenti berulang, bahkan akan terus menerus berulang dan berulang (looping process). Makna dari ke 10 proses pembelajaran tersebut adalah :

  1. Pelajaran pertama, bagaimana cara menjalin hubungan dengan orang terdekat kita (keluarga) dengan baik
  2. Pelajaran kedua, bagaimana cara menjaga jalinan hubungan yang sudah kita bina dengan tidak mengacuhkan orang-orang terdekat kita tersebut.
  3. Pelajaran ketiga, bagaimana cara memperhatikan orang-orang disekitarnya tersebut (keluarga).
  4. Pelajaran keempat, bagaimana cara menjalin silaturahmi keluarga dengan cara sering komunikasi dengan mereka, semakin sering maka kita akan semakin dekat.
  5. Pelajaran kelima, bagaimana cara berjalan dengan keluarga dengan kondisi perlahan-lahan sehingga mereka akan sama-sama maju dan tidak ada yang tertinggal.
  6. Pelajaran keenam, bagaimana cara membudidayakan keluarga dengan ilmu, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan sehari-hari.
  7. Pelajaran ketujuh, bagaimana cara menyikapi masalah-masalah dalam kehidupan, baik yang menyangkut diri sendiri, keluarga atau pun pihak luar.
  8. Pelajaran kedelapan, bagaimana cara menjaga hubungan baik dengan orang diluar keluarga.
  9. Pelajaran kesembilan, bagaimana cara menyusun rencana untuk pembentukan generasi selanjutnya (regenerasi).
  10. Pelajaran kesepuluh, bagaimana cara mengajari generasi penerus kita dengan proses pelajaran pertama.
Itulah 10 looping process dalam kehidupan kita ini, hal ini sama juga dengan rantai makanan pada kehidupan binatang. Seandainya ada satu rantai yang kita potong, maka semakin lama akan semakin punah kehidupan binatang tersebut. Begitu pula dengan proses pembelajaran kehidupan itu, janganlah ada yang terlewatkan atau terputuskan karena akan menghancurkan generasi-generasi penerus kita. Bukankah kita ingin sesuatu yang lebih baik untuk masa depan daripada yang sudah ada saat ini.

Wednesday, October 04, 2006

Kecewa Dengan Merk ZTE

Oh maaf, kami sudah tidak menangani produk ZTE yang dipakai untuk FWP starone lagi. Sekarang kami hanya menangani tipe Stylo.
Coba bapak ke ruko seberang, ruko Sanextel. Mungkin mereka bisa membetulkan.

Secara kronologis saya jelaskan, bahwa produk FWT (Fixe Wireless Terminal) atau kadang juga disebut FWP (Fixed Wireless Phone) merk ZTE kepunyaan saya mengalami masalah dengan soket tempat colokan kabel data yang menjadi jalur hubungan FWP tersebut dengan komputer saya. Saya jelas-jelas tahu bahwa produk ini sudah tidak garansi lagi karena sudah lewat dari 1 tahun. Produk ini saya pakai dengan alasan yang paling utama adalah untuk melakukan koneksi internet via starone. Sejak hari Jumat tanggal 29 September 2006 kemarin, karena masalah tersebut saya tidak bisa lagi memakai produk ini untuk sambungan internet. Hari itu juga saya telepon ke CSO (Customer Service Operator) nya starone untuk menanyakan informasi tentang problem saya ini.
Terus terang saya merasa takut,karena bukannya apa-apa. Saya ini pelanggan pasca bayar, dan FWP tersebut nomornya inject. Jadi saya takut FWP saya sembarangan dipakai teleponnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab kalau saya membawanya ke tempat-tempat sembarangan. Oleh karena itu saya memutuskan untuk membawanya pertama kali ke pihak starone (galeri Indosat di Roxymas). Ternyata pada awalnya mereka tidak bisa membantu apa-apa karena FWP saya sudah lewat masa garansi nya, dan saya dianjurkan untuk membawanya ke tempat nya ZTE yang hanya beberapa blok ruko dari galeri Indosat tersebut.
Singkat kata, yang diatas itulah kata-kata yang saya terima dari tempat (service center?) ZTE di daerah Roxymas. Saya benar-benar merasa kecewa. Bagaimana tidak, ada beberapa alasan yang membuat saya kecewa. Pertama, tempat itu jelas-jelas adalah tempat nya ZTE, tetapi mereka beralasan sudah tidak menangani produk ini lagi yang notabene hanya baru 1 tahun 3 bulan saya pakai (sejak Juni 2005). Kedua, dengan se-enaknya mereka menganjurkan saya untuk membetulkan pesawat telepon saya yang rusak ke perusahaan merk lain (Sanextel), yang mana sudah jelas-jelas produk yang saya punya adalah ZTE.
Saya benar-benar kecewa dan kesal dengan pihak ZTE. Akhirnya saya kembali lagi ke galeri Indosat dengan maksud mau meminta info lagi dan alternatif lain agar bagaimana caranya FWP saya ini bisa di servis. Karena menurut saya, pihak Indosat secara tidak langsung juga terlibat dan bertanggung jawab atas informasi tersebut. Pertama, karena saya mendapatkan FWP tersebut dari Indosat, dan Indosat mengeluarkan produk tersebut atas kerjasama dengan pihak ZTE. Kedua, karena saya adalah pelanggan pasca bayar Indosat Starone.
Sebenarnya saya tidak menyalahkan pihak Indosat, karena itu saya hanya meminta info saja. Dengan koorporatif, mereka membantu saya. Maksud awal saya hanyalah cuma untuk mengetahui dengan pasti alternatif tempat servis resmi ZTE. Setelah disuruh menunggu sekitar 15 menit, akhirnya mereka memberikan solusi kepada saya. Mereka bersedia membantu saya untuk mencoba membawa FWP saya ke Indosat pusat untuk diperbaiki dan apabila ada biaya yang harus saya keluarkan saya minta tolong agar dikonfirmasi ke saya terlebih dahulu.
Saya benar-benar salut dengan pihak Indosat dalam hal ini, karena walaupun garansi saya sudah habis, tetapi mereka masih mau mencoba membantu saya. Walaupun saya juga tidak berharap banyak (saya tahu diri, garansi saya sudah habis). Dan kepada pihak ZTE, saya benar-benar KECEWA !!!

Wednesday, September 27, 2006

Batrei Baru Dari Dell

Asikkkkkkkkkkkkk dapet batre baru dari Dell !!
Itu kalimat yang pertama kali saya ucapkan ketika pihak Dell Indonesia menghubungi saya untuk melakukan konfirmasi bahwa klaim saya untuk mengikuti program tukar batrei dari Dell diterima.
Awalnya sih sebenarnya saya hanya coba-coba saja, ketika berkali-kali membaca berita tentang kejadian laptop Dell yang terbakar di detikinet. Lalu saya mencoba mencari tahu nomor telepon pihak Dell Indonesia melalui google. Lalu saya menelpon mereka, seingat saya waktu itu tanggal 16 Agustus 2006. Dan saya mencoba klaim tukar batrei tersebut, ternyata ada sedikit kerancuan mengenai serial nomor dari batrei nya, antara huruf 'o' dan angka '0', karena hampir sangat mirip. Lalu pihak Dell Indonesia mengatakan akan menghubungi saya minggu depan-nya, karena tanggal 17 Agustus 2006 itu akan ada libur panjang sampai hari senin nya. Ternyata mereka menelpon saya hari Jumat minggu berikutnya yaitu tanggal 25 Agustus 2006, dan klaim saya diterima. Dan saya disambungkan kepada Dell Malaysia yang berkedudukan di Pulau Penang, Malaysia. Orang asing rupanya yang berbicara diseberang sana dengan saya. Dengan sedikit kemampuan bahasa Inggris saya, walaupun agak terputus-putus sambungan teleponnya, akhirnya selesai juga pembicaraan kami yang intinya hanyalah permintaan informasi lengkap tentang saya dan sedikit info tentang laptop Dell Inspiron 600m milik saya.
Mereka menjanjikan 20 hari kerja setelah tanggal 25 Agustus 2006 tersebut untuk mengganti batrei laptop saya. Mereka akan kirim kurir, jadi sistem jemput bola. Saya sangat salut dengan ini, karena mereka paham bahwa mungkin sebagian besar dari pengguna produk mereka adalah orang yang bekerja di kantor.

Singkat kata, setelah hampir hari kerja ke 20 itu, saya masih belum menerima batrei pengganti atau pun setidaknya telepon dari pihak mereka.
Tanggal 18 September 2006 saya menerima email dengan subjek Dell Battery Recall Program. Dalam hati saya berpikir, "ini dia yang ditunggu-tunggu". Ternyata mereka mengabarkan ke saya bahwa mereka tidak bisa menghubungi no telepon yang saya kasih kepada mereka. Mereka salah dalam mencatat no telepon kantor saya dan no telepon handphone saya. Akhirnya pada hari itu juga mereka mengantarkan ke kantor saya dan saya menerima batrei baru dari Dell tanpa membayar sepeserpun.
Batrei baru tersebut rupanya Made in Korea, sedangkan batrei asli yang saya punya adalah Made in Japan. Tetapi, tidak mengapalah karena sampai saat ini saya tidak mengalami permasalahan dengan batrei baru ini, malah saya bersyukur karena dapat batrei baru yang kualitasnya masih bagus (batrei saya yang lama sudah hampir 2 tahun saya pakai, dan kualitasnya sudah agak menurun).
Terima kasih Dell !!

Friday, August 04, 2006

Kenangan Masa Kecil Itu Indah

Masih suka atau tidak sih kita mengingat masa-masa kecil kita?. Coba deh kita sejenak merenung bagaimana masa kecil kita. Tentu akan banyak kenangan-kenang indah, lucu, dan menyenangkan. Karena saat kita kecil, kita tidak pernah memikirkan bagaimana hidup itu, bagaimana cara bertahan dalam kehidupan jaman sekarang yang sangat keras. Yang ada hanyalah kesenangan-kesenangan dan main-main saat kita kecil dulu. Namun jangan kita terpikir untuk kembali ke masa itu, karena masa-masa itu sudah lewat. Yang sekarang kita hadapi adalah bagaimana untuk hari ini dan hari mendatang, disaat kita sudah terbebani dalam masalah-masalah yang seiring dengan masa dewasa kita sekarang. Ooh indahnya masa kecil, mudah-mudahan bisa menjadi cerminan indahnya masa dewasa kita.

Masa lalu sudah terjadi dengan segala kebaikan dan keburukannya, Masa depan belumlah terjadi, Maka hiduplah untuk hari ini

Senyum Itu Memberi Rasa Damai


Setiap senyuman itu menuaikan rasa damai, terutama apabila senyuman itu setulus jiwa yang halus. Senyum yang tulus itu ibarat senyum dari seorang anak kecil, yang mana tidak ada kepalsuan dalam senyumannya. Senyuman itulah yg memberikan rasa damai pada setiap orang yang melihat. Cobalah kita untuk senyum seperti itu agar kedamaian terus terpupuk. :)

Thursday, August 03, 2006

Tiada Pintar, Tiada Bodoh

Seorang ibu berkata kepada anaknya, "kamu harus belajar supaya nanti kamu lekas pintar, kalau tidak belajar maka kamu akan bodoh".

Sebuah kalimat yang sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin juga apa yang diucapkan oleh ibu itu juga pernah diucapkan oleh ibu kita sendiri ketika kita masih sekolah dulu.
Namun yang menjadi pertanyaan, 'Apa sih batasan kepintaran atau kebodohan seseorang?'. Saya sangat tidak setuju dengan kata 'pintar' atau 'bodoh'. Karena setiap manusia itu diciptakan memiliki akal pikiran. Memiliki otak untuk berpikir, memiliki hati untu memfilter hasil pemikiran atau yang kan menjadi pemikiran kita. Tetapi sudahlah, saya tidak sedang berfokus kepada persoalan hati dan pemikiran. Yang jadi persoalan adalah banyaknya anggapan orang tentang dua kalimat yg menurut saya 'sakti' sekarang ini. Karena hampir setiap mayoritas orang selalu berpikir bahwa orang itu pintar apa bodoh. Persepsi ini coba saya jabarkan terlebih dahulu.
Ketika masih dibangku sekolah kita dihadapkan dengan orang tua dan guru, tanggung jawab mereka adalah mencerdaskan bangsa, dalam hal ini murid sebagai objek pendidikan (sesuai dengan motto pendidikan negara ini yang tercantum dalam UUD 1945). Guru dan orang tua selalu terjebak dalam dua kata tersebut, makanya seusai dengan kutipan saya diatas tadi.
Begitu pula ketika kita mulai memasuki lingkungan pekerjaan, dimulai dari wawancara pekerjaan, secara tidak langsung kita pasti ditanya "Apa kepintaran Anda?". Tidak ada yang akan bertanya "Apa kebodohan Anda?".
Dalam semua hal kita pasti berhadapan dengan urusan pintar atau bodoh secara langsung maupun tidak langsung. Dengan adanya tulisan ini, saya mengajak kalian untuk berpikir secara logis. Satu contoh, ada seseorang yang kebetulan gemar dalam hal komputer dan internet, terkadang dia menhadapi situasi yang demikian yang menimbulkan pertanyaan atau pernyataan pintar atau bodoh . Ada saja yang bilang, "Eh, elu kok pinter banget sih sama komputer atau internet?". Dan selalu dijawab, "Dalam dunia komputer atau internet, tidak ada orang pinter atau goblok, yang ada cuma yang sudah tahu atau yang belum tahu, itu saja".
Nah, disana esensi kalimat yang saya maksud dengan judul tulisan ini. Tiada pintar, tiada bodoh, yang ada hanyalah orang yang sudah tahu atau yang belum tahu. Saya menggambarkan itu sebagai satu hal yang mendasar dan global dari segala jenis pembelajaran terhadap semua bidang ilmu pengetahuan. Selanjutnya, dalam hal tahu atau tidak tahu tersebut terbagi dalam suatu bagian lagi, yaitu 'mau mencari tahu' atau 'tidak mau mencari tahu'. Dan itupun masih bisa terbagi lagi kedalam sub-bagian. Mungkin kita mau mencari tahu, pasti terbagi kepada 'ada kesempatan' atau 'tidak ada kesempatan'. Begitu pula sebaliknya.
Kalau boleh saya ringkas seperti ini :
  1. Sudah Tahu
  • Mau Mencari tahu
    • Ada Kesempatan.
      • Hasilnya, menjadi tahu.
    • Tidak ada kesempatan.
      • Hasilnya, mungkin saja bisa menjadi tahu.
      • Hasilnya, mungkin saja tidak menjadi tahu sama sekali.
  • Tidak mau mencari tahu.
    • Ada kesempatan.
      • Hasilnya, membuang kesempatan yang mungkin orang lain yang mau mencari tahu bisa berharap sama dengan posisi dia ketika dia memiliki kesempatan. Dan hasil akhirnya, dia tidak tahu sama sekali.
    • Tidak ada kesempatan.
      • Hasilnya, memang kesalahannya sendiri sehingga benar-benar tidak tahu.
      • Hasilnya, mungkin karena orang jenis ini memang tidak mau tahu karena dia tahu dia tidak memiliki kesempatan.

2. Tidak Tahu
  • Semuanya kebalikan dari point no 1 diatas.

Maka dari itu, dari tulisan ini saya hanya berharap bahwa yang membaca tulisan ini dapat berpikir ekstra untuk mengatakan 'pintar' atau 'bodoh'. Intinya, menurut saya dalam dunia ini tidak ada orang pintar atau bodoh. Semua manusia itu sama, tergantung dari situasi mereka saja dalam posisi terhadap pembelajaran ilmu pengetahuan. Seperti yang bisa saya kutip dari quote-nya Sir William Shakespeare :
To be or not to be, that is the question
Mau atau tidak nya kita untuk menjadi tahu, itu kembali lagi pertanyaan yang harus diajukan kepada diri kita sendiri. Dan semua itu saya kembalikan lagi kepada kalian semua dalam mencerna dan menanggapi tulisan ini.